Oleh : MA’MUN, S.E.,S.Pd.,S.Pd.I

PADA masa kepemimpinan Bapak H Malik, S.Pd., M.Pd.I terjadi banyak perubahan di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Purworejo (selanjutnya disebut madrasah). Salah satunya adalah berdirinya Boarding School (seterusnya disingkat BS)  pada tahun pelajaran 2017/2018. Keberadaannya dirasakan mampu memperkuat daya magnetic madrasah untuk meningkatkan animo masyarakat mendidik anak-anak mereka melalui lembaga ini.

Dilihat dari aspek manajemen pemasaran kebijakan mendirikan BS adalah suatu keniscayaan. Madrasah dalam berbagai hal tidak berbeda jauh meskipun tidak sama persis dengan sebuah perusahaan jasa. Ada bermacam-macam klasifikasi perusahaan jasa yang meliputi jasa bisnis, komunikasi, konstruksi dan teknik, pendidikan, keuangan dan lain-lain (Rambat Lupiyadi dan A Hamdani dalam  M Khafid FR, 2016 : 23). Madrasah dengan demikian termasuk perusahaan jasa pendidikan. Sebagai perusahaan, madrasah harus mengadopsi kaidah-kaidah bisnis untuk menggerakkan roda kehidupannya. Pemimpinnya harus inovatif dan mampu membuat diversifikasi produk. Harapannya, madrasah akan semakin dijadikan pilihan rasional yang selalu ada di hati masyarakat konsumennya.

Upaya mendiversifikasi produk itu diwujudkan dengan mendirikan BS. Ternyata kehadirannya mendapatkan  respon positif dari masyarakat. Dari tahun ke tahun jumlah peminatnya semakin meningkat. Bukan hanya mereka yang berdomisili jauh dari madrasah, tetapi juga warga dari lingkungan sekitar yang bertempat tinggal relatif dekat. Trend positif itu perlu untuk terus dipertahankan. Untuk itu harus terus ada upaya meningkatkan kualitasnya secara konsisten dan penuh komitmen oleh pihak pengelola.

BS menjadi pilihan dimungkinkan oleh beberapa alasan. Pertama, banyak pasangan suami istri yang keduanya bekerja dan berkarir, sehingga mereka mempunyai waktu yang sedikit untuk memberikan perhatian kepada anak-anak mereka. Ketika mereka kembali ke rumah hanya sedikit energi yang tersisa. Kedua, ada harapan bahwa anak-anak mereka akan mendapatkan nilai lebih dibandingkan hanya belajar di madrasah, kemudian waktu selebihnya mereka habiskan di rumah. Ketiga, sebagai upaya membentengi anak-anak dari dampak kemerosotan nilai-nilai moral dan kenakalan remaja. Keempat, memudahkan pengendalian anak dari ekses penggunaan gadget dan internet yang sudah sedemikian jauh mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia baik dalam skala lokal maupun global.

Barangkali masih banyak faktor lain yang dapat diinventarisir di luar yang dapat penulis pikir, Para pembaca dapat menambahkannya. Namun demikian,  satu hal yang dapat dipetik dari paparan di atas adalah betapa boarding menanggung beban harapan yang tidak ringan dari kelompok masyarakat peminatnya. Oleh karena itu, BS yang menunjukkan dirinya sebagai magnet baru bagi madrasah memerlukan perhatian khusus yang serius dari seluruh pemangku kepentingan. BS, dengan demikian, akan dapat memainkan peran strategis yang makin signifikan bagi madrasah di masa yang akan dating.

Berkenaan dengan realitas diatas, ada minimal dua hal yang patut untuk diperhatikan dengan sungguh-sunguh sebagai proritas menyangkut keberlangsungan keberadaan BS. Pertama, di masa-masa awal ini perlu adanya jaminan legalitas BS, Landasan hukum yang menopang keberadaan lembaga mutlak harus dibangun mengingat BS didirikan dengan melibatkan pihak ketiga. Kita tentu tidak menginginkan di kemudian hari ada persengkataan menyangkut hak tata kelola lembaga. Potensi konflik harus diantisipasi dan sedini mungkin dideteksi kemudian diatasi. Maka, memory of understanding antara seluruh pihak yang terlibat menuntut kepastian untuk disepakati.

Hal kedua adalah menyangkut produk khususnya berkaitan dengan rancangan dan muatan kurikulum. Agar keberadaan BS menunjang kinerja madrasah maka desain kurikulumnya hendaknya memperhitungkan kapasitas fisik, mental dan psikologis anak. Disamping memiliki kekhasan boarding kurikulum yang dirancang bersinergi dengan kurikulum madrasah sehingga mampu menopang pencapaian visi dan misi madrasah baik yang bersifat akademik maupun non akademik,

Masih banyak persoalan yang perlu dielaborasi dan mengundang anda untuk berkonstribusi masukan atau gagasan  yang tersimpan dalam

 benak. Kali ini, cukup sampai disini dulu, kita kembangkan pikiran di lain waktu. Rambate rata hayo, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Singsingkan lengan baju kalau kita mau maju. Begitu, bunyi lirik salah satu lagu dari Si Raja Dangdut Rhoma Irama.

Purworejo, Kamis, 18 Juni 2020.