INTERNET DAPAT “MEMBUNUH” GURU

Oleh : MA’MUN, S.E., S.Pd., S.Pd.I.

Guru Bahasa inggris MTsN 1 Purworejo

       INTERNET telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia termasuk bidang pembelajaran. Guru  tidak lagi menjadi sumber utama informasi ilmu pengetahuan. Internet menjadi alternatif yang justru lebih menarik karena kaya variasi  yang memungkinkan siswa belajar sesuai gaya belajarnya sendiri . Kondisi ini dapat menggeser posisi dan peran guru dengan peran tradisionalnya sebagai agen transfer pengetahuan yang dapat berujung ‘membunuh’ diri guru dalam pengertian konotatif maupun denotatif  . Agar tidak tergusur, guru harus mereposisi peran dirinya dengan secara aktif, responsif dan adaptif mengikuti perkembangan yang positif dari dunia internet.

Menurut Minarti (2013) ada tiga gaya belajar yang dimiliki siswa : Visual, Auditory dan Kinesthetiic. Ahli-ahli yang lain ada yang menambahkannya mejadi lima dan tujuh. Melalui internet seorang siswa dapat memilih cara belajar sesuai gaya yang dimilikii, sementara di ruang kelas mereka bergantung pada bagaimana gaya mengajar seorang guru. Akibatnya, mereka tidak menikmati proses pembelajaran.

Ketidaksesuaian antara gaya mengajar dan belajar ini menjadikan proses pembelajaran kurang atau bahkan sama sekali tidak efektif. Siswa merasa tidak nyaman, kurang motivasi, banyak berulah, sering ijin keluar masuk kelas dan lain sebagainya. Guru pun dapat menjadi stress karena beranggapan para siswanya tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik, atau lebih ekstrim lagi tidak dapat diatur. Idealnya untuk mengatasi keadaan ini seorang guru hendaknya mengajar sesuai dengan gaya belajar siswa. Namun demikian, tentu ini cukup sulit dilakukan mengingat pembelajaran dilakukan secara klasikal dengan kondisi psikologis siswa yang heterogen.

Mengatasi keadaan di atas, guru harus berpikir keras mencari alternatif solusi. Kesadaran akan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi (TI) baik sebagai sumber maupun media pembelajaran menjadi semakin penting bagi guru. Dengan menggunakan TI kegiatan pembelajaran tertentu menjadi lebih menarik. TI dalam hal ini internet dapat dijadikan sumber informasi dan inspirasi untuk mengembangkan model pembelajaran yang aktraktif dan variatif.  Harapan akan timbulnya gairah belajar dalam diri siswa dapat diwujudkan dan ditumbuhkan.

Penguasaan  materi pelajaran tidak mancukupi tanpa didukung kreatifitas penggunaan media dan internet menawarkan banyak pilihan untuk digunakan. Oleh karena itu seorang guru harus rajin berselancar di dunia maya untuk menggali informasi yang berhubungan dengan tugas pokoknya dan kemudian menerapkannya dalam pembelajaran. Mengandalkan metode ceramah tentu akan mengundang kebosanan dan kejenuhan.

Banyak guru yang berusia limapuluhan ke atas tidak terlalu piawai dalam penggunaan teknologi informasi.  Gaya mengajar meraka bertumpu pada kemampuan berceramah. Cara monoton ini sangat potensial menjadikan para siswa meningggalkan mereka dalam berbagai bentuk ekspresi : berbicara sendiri, tidak fokus, apatis dan semacamnya sebagai bentuk perlawanan.

Menyikapi kondisi tersebut, para guru sering mengeluh bahwa para siswa sekarang sudah semakin sulit dikendalikan. Guru merasa marah, stress dan frustasi. Kalau hal ini terus terjadi tentu akan merugikan baik pihak guru maupun murid. Jiwa dan raga guru dapat dirugikan, para siswa merasa kurang mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Pada gilirannya, tujuan lembaga tidak dapat diwujudkan.

Tekanan-tekanan psikologis seperti itu dapat berakibat mengurangi produktivitas kerja guru yang menyebabkannya semakin ditinggalkan para siswanya. Jiwa yang terus tertekan akan merusak fisik yang ditandai dengan timbulnya berbagai penyakit yang akan membunuhnya. Jadi, sebagai penangkal guru harus meiliki literasi teknologi internet.

Sebagai tambahan untuk mengantisipasi itu semua perlu dibangun mentalitas guru yang peka terhadap kemajuan perkembangan teknologi. Perlu ditanamkan kesadaran bahwa masyarakat Indonesia sekarang ini dan di masa mendatang merupakan masyarakat yang berbudaya teknologi, yang mempengaruhi segenap bidang kehidupan, termasuk pendidikan (Miarso, 2004 : 53)

Purworejo, 10 Juni 2020