Pembelajaran Bahasa Indonesia pada kelas VIII, salah satunya membahas tentang Teks Persuasif. Teks persuasif merupakan teks yang berisi bujukan dan ajakan terhadap pembacanya. Adapun Kompetensi Dasar (KD): Menyajikan teks persuasi (saran, ajakan, arahan, dan pertimbangan) secara tulis dan lisan dengan memperhatikan struktur, kebahasaan, atau aspek lisan. Pada Teks Persuasi bujukan dan ajakan tentunya didahului dengan argumentasi atau sejumlah bukti-bukti sehingga pembaca percaya terhadap apa yang telah disampaikan penulis, dan tentunya ada sejumlah fakta dalam teks persuasi tersebut.
Menurut J.S. Badudu, dalam Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia’ definisi Resitasi adalaha bacaan yang disampaikan dari hafalan di depan umum; 2. Hafalan yang diucapkan (misal oleh murid-murid) di depan kelas. Sedangkan Roymond mengemukakan pengertian metode resitasi yang agak berbeda menurutnya ‘metode pembelajaran resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri. Lebih lanjut dikatakan Roymond, metode resitasi mempunyai kelebihan; 1) pengetahuan yang diperoleh siswa dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama, 2) siswa memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab dan mandiri. Adapun kelemahan dari metode resitasi adalah 1) kadang kala siswa melekukan penipuan yakni peserta didik meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri, 2) kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan, 3) sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individu.
Penulis pada pembelajaran teks persuasi di kelas VIII MTs N 1 Purworejo memberi tema tentang Kasih Sayang Kepada Orang Tua. Adapun langkah-langkah yang dalam pembelajaran; 1) guru memberi pencerahan tentang tema, menjelaskan bahwa kasih sayang kepada orang tua sangatlah luas, bisa kasih sayang ayah, kasih sayang ibu sejak dalam kandungan, merawat hingga menjadi dewasa, 2) guru memberi contoh tentang kasih sayang dalam keluarga, bukti / argumen diberikan contoh juga, 3) guru memberi contoh kalimat ajakan, misalnya ‘marilah sayangi orang tua kita’ , 4) siswa mulai menulis dengan membuat kerangka / garis besar tulisan yang akan dituangkan dalam tulisan teks persuasif, 5) siswa mengembangkan kerangka menjadi tulisan teks persuasif dengan bimbingan guru, 6) siswa yang menyelesaikan tulisan paling awal diberi kesempatan untuk membacakan tulisan di depan kelas, 7) setelah selesai semua, dan ada tiga siswa yang menyelesaikan tulisan di awal untuk membacakan tulisannya, 8) guru memberi penguatan terhadap tulisan siswa baik yang dibacakan maupun yang tidak dibacakan, 9) guru mengakhiri pembelajaran dengan menyimpulkan hasil pembelajaran dan memberi tugas menulis teks persuasi bagi yang mendapatkan nilai di bawah 70 sesuai dengan kesepakatan awal.
Pembelajaran dengan menggunakan metode resitasi yang penulis laksanakan sangatlah menyenangkan, dan mampu membuka inspirasi siswa berkembang. Pembelajaran dengan metode resitasi ini tentunya tidak bisa lepas dari bimbingan guru, guru sebagai fasilitator dan sebagai tutor terus berperan aktif. Sehingga pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan. Perlu ditekankan kembali bahwa teks persuasif merupakan teks yang didalamnya terdapat isu / masalah, kemudian didukung adanya argumentasi, dibuktikan dengan sejumlah fakta, dan pada akhir teks perlu adanya penegasan kembali tentang sejumlah fakta-fakta yang mendukung.
Pembelajaran menjadi hidup atau bergairah menurut penulis jika didukung dengan adanya pemilihan metode mengajar yang tepat. Metode yang tepat yang tentunya disesuaikan dengan situasi dan konsidi sekolah /madrasah tempat melaksanakan pembelajaran.-kds-