Pahami   Keterampilan Bahasa, Langkah Awal Menulis

 

Keterampilan berbahasa terdiri atas 4 aspek, yakni keterampilan mendengarkan (menyimak),  berbicara, membaca, dan menulis. Mendengarkan dan membaca merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif, sedangkan berbicara dan menulis bersifat produktif. Apabila kita memiliki kemampuan berbahasa, kita akan dapat mengungkapkan pikiran, kita dapat  mengekspresikan  perasaan, kita dengan mudah menyatakan kehendak atau melaporkan fakta-fakta yang kita amati. Sebaliknya kita dengan mudah memahami kehendak, pikiran, perasaan, gagasan, dan fakta yang  disampaikan orang lain kepada kita.

Keterampilan berbahasa bermanfaat dalam melakukan interaksi komunikasi dalam masyarakat. Banyak profesi dalam kehidupan bermasyarakat yang keberhasilannya, antara lain bergantung pada tingkat keterampilan berbahasa yang dimilikinya, misalnya profesi sebagai manajer, jaksa, pengacara, guru, penyiar, dai , wartawan, dan lain-lain. Keterampilan  berbahasa yang harus dimiliki oleh seorang  guru, pada era globalisasi ini tentunya lebih kompleks. Profesi guru yang langsung berhadapan dengan benda hidup (siswa), dituntut  dapat berinteraksi secara maksimal dalam menyampaikan materi pelajaran, agar apa yang disampaikan dapat dipahami siswa.

Guru selain mahir dalam menulis rancangan pembelajaran yang berupa  recana pembelajaran, melaksanakan, mengevaluasi, melakukan perbaikan, serta melaksanakan tugas tambahan. Sebagai profesi, guru juga dituntut untuk mampu melakukan inovasi dan menyampaikan gagasannya. Karena itu, guru juga dituntut untuk mampu mengemukakan gagasan, pengalaman, dan penelitiannya ke dalam tulisan, baik tulisan yang bersifat fiksi maupun ilmiah. Tulisan (fiksi dan seni) sastra masuk dalam kategori karya inovatif, sedangkan tulisan non-fiksi seperti laporan penelitian, artikel ilmiah di jurnal, artikel ilmiah populer di koran, majalah, termasuk buku, dll. masuk dalam publikasi ilmiah yang sangat dibutuhkan oleh setiap guru. Buku ini menyajikan tulisan-tulisan dari sejumlah guru tentang bagaimana cara menjadi guru penulis. Buku ini sangat diperlukan bagi para guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta dalam mengembangkan profesi dan karir kepangkatannya.

Menulis merupakan komunikasi tulis untuk menginformasikan dan mengekspresikan maksud dan tujuan tertentu, baik bersifat imajinatif maupun nyata. Gie (2002) dalam Ida Zulaeha: 2016: 9 mengungkapkan bahwa mengarang atau menulis adalah rangkaian kegiatan seorang mengungkapkan buah pikirannya melalui bahasa tulis untuk dibaca dan dimengerti oleh orang lainatau pembaca. Buah pikiran itu dapat  berupa pikiran pengalaman, pendapat, pengetahuan, atau perasaan dampak gejolak kalbu seseorang. Seseorang yang menulis bertujuan mengungkapkan fakta-fakta, perasaan, sikap, dan isi pikiran secara jelas dan efektif kepada pembaca.

Suparno : 2007 dalam Ida Zulaeha 2016 : 9 mengatakan bahwa aktivitas menulis dapat meningkatkan kecerdasan penulis, mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, menumbuhkan keberanian dan mendorong kemauan, serta kemampuan untuk mengumpulkan informasi.

Guru setiap hari selain mengajar juga dituntut untuk menyelesaiakan administrasi. Pepatah mengatakan ‘sambil menyelam minum air’, berikut hal-hal yang dapat dijadikan  tulisan :

  1. Catatan harian

Catatan harian atau buku harian, merupakan tulisan yang berisi tentang aktivitas yang dilakukan dalam keseharian. Yang ditulis dalam buku harian pada prinsipnya adalah hal-hal yang menyenangkan, yang membanggakan, atau sebaliknya hal menyedihkan. Guru setiap hari mencatat dalam agenda mengajar baik milik pribadi atau milik kelas, lakukanlah secara rutin  selama setengah tahun kita rekap maka bisa menjadi sebuah buku.

  1. Menulis status

Zaman sekarang sudah jarang  sekali  menulis surat secara pribadi. Surat pribadi telah beralih menjada cating atau status, cating atau status dapat dikumpulkan dikelola sedemikian rupa sehingga bisa kita tata hingga menjadi sebuah tulisan, bisa menjadi sebuah buku.

  1. Menulis laporan

Setiap hari ASN diwajibkan melaporkan kinerjanya secara online, laporan kerja ini selama tiga bulan atau setengah tahun, bisa menjadi bahan tulisan, kita satukan menjadi buku, yang mungkin bisa bermanfaat untuk orang lain.

  1. Menulis karya ilmiah

Kegiatan pembelajaran yang setiap hari kita lakukan bisa menjadi bahan penelitian, hasil tulisannya  berbentuk karya ilmiah. Berikut syarat menulis ilmiah:

  1. Penulisannya berdasarkan penelitian.
  2. Pembahasan maslahnya berdasarkan fakta.
  3. Karya mengandung masalah yang sedang dicarikan jalan pemecahannya.
  4. Baik dalam penyajian maupun dalam pemecahan masalah digunakan metode tertentu.
  5. Bahasanya harus lengkap, terperinci, teratur, dan cermat.
  6. Bahasa yang digunakan bahasa yang benar, jelas, ringkas, dan tepat, sehingga tidak terbuka kemungkinan bagi pembaca untuk salah tafsir.
  7. Menulis sastra

Menulis sastra ini dapat berupa novel, cerpen, dan puisi. Isinya bisa curahan hati pribadi, bisa cerita tentang sisawanya pandai, lucu, bermasalah, dan  berprestasi. Mungkin dari sifat siswa tersebut tidak sempat diungkapkan dengan kata-kata maka ungkapkanlah lewat tulisan. Tidak perlu kita membicarakan anak-anak yang nakal atau bermasalah secara berlebihan atau bahkan sampai membenci, karena kita tidak tahu apa yang terjadi pada siswa-siswa kita kelak. Boleh jadi anak yang bermasalah kelak hidupnya sukses, karena ia telah belajar dari masalah yang dihadapinya. Dan siapa tahu anak yang dibenci kelak dapat menarik tangan kita di JannahNYA..

Marilah belajar menulis, kalau pun belum mampu menulis, bacalah  buku sebanyak-banyaknya karena dengan membaca kosa kata yang kita kuasai menjadi banyak, sehingga apabila ada sesuatu dengan mudah kita dapat menuangkan dalam bentuk tulisan. Kalau tidak dimulai sekarang mau kapan lagi, jangan hanya menyuruh siswa untuk berliterasi, tapi marilah kita berliterasi terlebih dahulu, walaupun sebenarnya guru harus hiperliterasi yaitu mampu menulis / menghasilkan karya.***kds